Welcome to my Blog

Welcome to my blog


hope you will like it ^_^

Please, Enjoy it!

Don't forget to click the like button and comment!

happy reading ^_-


Sabtu, 09 Maret 2013

Ice Skating Pertamaku

Matahari terbit di ufuk timur, menembus ruangan dan menyilaukan mata. Membangunkanku dari tidur lelapku. Aku melirik handphoneku menunjukkan jam 06.37. Kumiringkan kepalaku dan melihat sepupuku masih nyenyak dalam tidurnya. Ini adalah liburan, karena itu aku menginap di rumah sepupuku Raisa yang akrab disapa Isa. Sedangkan mama, papa dan Vio adikku menginap di rumah nenek.


Aku mengusap mataku dan bangkit dari terbaring. Ku ikat rambutku dan beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi. Tiba-tiba tante mengejutkanku dengan suaranya yang memecah keheningan.


“Salma, udah bangun?” Tanyanya dari ruang tengah. “Hmm..” Anggukku sambil tersenyum kearahnya.


Ia beranjak dari sofa dan berhenti di depan kamarnya. “Tadi mama telfon, katanya mau ngajak ke PVJ main ice skating. Tapi harus pagi-pagi. Isa nya belum bangun? Bangunin gih!” jelasnya.


“Ooo.. Yaudah aku bangunin Isa dulu atuh..” Ucapku tak lama sebelum aku kembali ke kamar sepupuku. Aku naik ke tempat tidur dan menggoyangkan badannya pelan. “Saa.. bangun doong..” Ucapku.


Kulihat sepupuku mulai membuka matanya dan mengacak rambutnya. “Bangun.. Mama papa aku mau ngajak ke PVJ tuuh.. Yuk!” Ajakku.

“Hah? Ke PVJ? Mau main apa?” Tanyanya. “Ice skating.. Mau gak?” Rayuku. “Wah? Mau!!!” Tukasnya setengah kegirangan.

“Yaudah atuh cepet mandi…” aku tersenyum lalu beranjak ke kamar mandi.

***

“Waah.. Udah siap nih gadis-gadis?” Tanya mamaku yang mengintip aku dan sepupuku bersiap-siap. “Udah atuuh.. Bi Teuis bilang suruh pagi-pagi..”Jawab Isa dengan muka polos. Mama tertawa lalu meninggalkan kami dikamar. Terdengar ia berbincang dengan tanteku yang biasa kupanggil Ua.


“Eh Sal.. Kita teh mau ke PVJ main Ice skating doing? Abis itu mau kemana?”Tanya Isa penasaran. Aku yang sedang asik membaca hanya mengangkat kedua bahuku. “Ayo.. nanti keburu macet. Jalan ke atas kan macet.” Ajak papaku. Kami langsung turun dan naik ke mobil.
***

“Whoaa!! Keren pisan atulaaah tempatnyaaa..” Seru Isa dengan logat sundanya. Aku terkekeh pelan sambil mencubit pipinya.
”Ayo masuk” Ajakku padanya.


Tidak heran Isa bisa berseru seperti itu. Tempat ice skatingnya benar benar nyaman. Suasana dan udara dingin langsung menyapa ketika kami memasuki langkah pertama di pintu arena skate. Arenanya tidak terlalu besar, tapi kurasa ini cukup nyaman.


Aku tersenyum gembira. Ini adalah pengalaman pertamaku bermain skate. ‘Pasti akan menyenangkan!!!’ Gumamku dalam hati.

“Ayo sanaa cepet masuk” Suara mama membuyarkan lamunanku.


Aku langsung masuk dan memberikan tiketnya pada petugas tiket. Vio dan Fafal sepupuku yang lain sudah melewati penjaga terlebih dulu. Raisa, yang terlalu kegirangan langsung menarik tanganku dan berlari ke tempat penyewaan sepatu skate. Kami bertiga telah mendapatkan sepatu yang pas. Ice guard yang berada diluar arena mengajari dan membantu memasangkan sepatu skate kami.


Setelah semua persiapan selesai, Isa langsung menarikku mendekati arena skating. Kursakan jantungku berdetak lebih cepat. Keringat mengalir dari pelipisku. Kutarik resleting jaketku lebih tinggi. Isa yang menyadarai hal itu tersenyum dan menyemangatiku.


“Ayo.. Gausah takuut..jangan di rem-rem.. Kalo udah ada diatas esnya mah ya.. ngeluncur sendiri daa.. Sok aja cobaiin..” Jelasnya sambil mengulurkan tangannya.


Aku tersenyum. Ku ulurkan tangan kananku padanya sedangkan tangan kiriku berpegangan pada tiang pegangan disekeliling arena. Perlahan aku mulai meluncur di atas arena skating dan mulai berjalan sendiri sambil berpegangan pada tiang.
“Sal sok cobain geura.. Enakeun pisan daa kalo udah meluncur maah.. Jangan di pinggir wae atuuh.. “ Ucapnya sambil meluncur dari seberang arena. “Hmm.. Tapi bantuin ya..” Aku nyengir sambil memegang tangannya.


Pada awalnya aku masih takut dan berpegangan. Luperhatikan orang orang disekitar arena memainkan kakinya diatas es. Kaki mereka yang lentur meluncur sangat lembut diatas arena skating. Terlihat beberapa dari mereka yang sudah mahir melakukan beberapa gerakan seperti balet dalam tutu-nya lalu menari diatas lantai super licin ini.


Aku menarik nafas panjang lalu ku jaga keseimbangan tubuhku diatas sepatu skate. Aku mulai meluncur pelan. Aku terus menerus meluncur. Tanpa disadari aku sudah terbiasa meluncur walaupun belum mahir. Bahkan seringkali aku jatuh hingga bajuku terasa basah karena arena yang terbuat dari es. Namun setidaknya aku mulai menikmati permainan ice skating ini.

***

“Saaal…” Isa memanggilku sambil meluncur. Aku memegang tangannya namun ia kehilangan keseimbangan tubuhnya. Kami mulai bergoyang sampai akhirnya…

DUKK!!

Kurasakan kepalaku membentur arena es yang keras tersebut. Semuanya terasa gelap. Seperti tiba-tiba otakku di matikan untuk beberapa saat hingga yang kuingat seperti aku terbaring di rumah. Butuh beberapa detik sampai aku mulai menyadarkan diriku kembali dan mendengar suara arena. Beberapa saat kemudian terdengar seruan sepupuku yang sangat kukenali suaranya.


“Sal.. Sal.. gak apa-apa?” suaranya terdengar khawatir. Aku mulai membuka mataku dan beberapa ice guard sudah mengelilingiku.
“Bangun dulu.. kalo gak kuat berdiri gak usah berdiri.. duduk aja dulu dek..” Ucap ice guard lelaki yang membantuku bangun. Aku mengangguk dan mengucapkan terimakasih. “Makasih mas.. gak apa apa kok..”


“Sal.. gak apa apa kan? Iih maaf yaaa…” ucap Isa merasa bersalah. Aku tersenyum sambil bangun dari duduk. “Gak apa apa sa…” Ucapku sambil menggosok kepalaku.
“Sakit ya? Pusing gak? Mau udahan aja mainnya?” Tanyanya cemas. “Gak.. Yuk main lagi.. Gak apa apa kook..” Ucapku tersenyum. Terdengar ia menghela nafasnya lega. Kami bermain ice skating lagi.
***

3 jam kemudian…
“Sa.. udahan yuuk.. capeek..” Ucapku sambil memukul kakiku yang terasa pegal. “Oh yaudah.. aku panggil Vio sama Fafal dulu ya..” Ucapnya lalu pergi.
Kami melepas sepatu skatenya dan mengembalikannya pada penyewaan sepatu. Kami keluar dan bergabung bersama papa mama dan tanteku di kafe sebelah arena skate tersebut. Kami beristirahat sambil memesan makanan karena lapar. Kulihat jam tangan menunjukkan pukul 05.30.

“Wah! Udah soree.. Gak kerasa..” ucapku. “He-eeh itu kamu yang maen.. Mama mah bosen nungguin kalian maen..” Ucap mama sambil menjulurkan lidahnya. Isa tertawa “Biar wee atuuh.. Ngajak maen inii.. Liburaan..” Balas Isa menjulurkan lidahnya. Kami tertawa bersama. Tak lama setelah itu pesanan kami datang.
***
“Waah benjool..” Isa yang sedang memainkan rambutku menyadari kepalaku yang membenjol karena benturan tadi.

“Sini diobatin dulu..” Ucap mama sambil membawa botol minyak.

“Hahahah… benjol nya gede euy.. Ga sakit gitu?” Tanya Isa

“Gak.. Cuma pusin aja pas kejeduk nya..” Jelasku. Mama terkekeh “makanyaa mainnya hati-hati..” Mama beranjak keluar kamar
“Biarin ajaa yang penting Happy..” Gumamku sambil tersenyum.

Permainan ice skating nya benar benar seru! Walaupun awalnya aku tidak bisa tapi akhirnya sedikit demi sedikit aku mulai belajar. Walaupun berkali kali jatuh tapi aku tidak perduli. Pengalaman ice skating pertamaku benar benar mengesankan.
***

Tidak ada komentar: